1095
Mendung di hari itu menggertak kesendirianku
Getarnya mengantarkanku pada sebuah pesan singkat
Darimu untuk aku
Sudah lama tak melihatmu, begitulah bunyi pesan itu
Masih kuingat jelas
Hari itu tanggal 22 September 2013
Aku tersenyum sembari menahan jemariku yang sebenarnya gemas
Kubiarkan kau dilanda cemas
Biar diamku meraba pikiranmu dengan ganas
Tapi jiwa tahu dan hati mengerti
Kau sebenarnya telah menang
Bahkan sebelum kau berperang
Aku takluk, bertekuk, jatuh dengan tenang
Ratusan purnama berlalu
Begitulah aku mengenalmu
Melihat sisi gelapmu
Bahkan kuadran yang tak pernah kau tunjukan pada siapapun
Nyatanya tidak pernah berhasil mengugurkanku
Luka itu. Sakit itu. Lelah itu. Bosan itu. Perbedaan itu
Nyatanya tidak pernah berhasil mengusir aku
Dekapan air matamu justru membuat aku utuh meskipun perlahan menyudutkanku
Hingga akhirnya aku lumpuh
Kau milikku dan selamanya akan tetap begitu
Tanda salibku tak akan mengganggu kumandang adzanmu
Jawabku dalam hati yakin dan begitu angkuh
Namun sayang, satu hal yang kita lupa
Dunia ini piawai merajut luka dan bahagia
Entah apa atau bagaimana, dia tidak akan pernah bertanya
Siap dan setujumu sudah diatur
Oleh Sang Kuasa pemilik umur
Sang Maha, yang tidak buta dan tidak tuli
Setiap hari datang untuk melawat setiap ruang hati
Mengatur siapa yang datang dan layak untuk pergi
Kekuatanku... Kemampuanmu...
Tidak akan pernah bisa melawan
Bahkan sekalipun kau memeluk aku begitu erat
Ataupun berteriak keras mengerang
Sayang aku tetap tak bisa kau tahan
Kembali aku kepada pelukan Bapaku
Begitupun dengan dirimu...
Entah memang penurut, takut dengan maut
Atau justru sebenarnya kita berdua adalah pengecut
Apapun alasannya...satu yang kupercaya
Tuhan bukan seorang lawan untuk kau sahut
KehendakNya adalah jalan terbaik yang harus kita ikut
Pada kenyataan akhirnya kita berserah pasrah
Dengan susah payah...
Kubunuh detik-detik meski harus berdarah-darah
Kubuat raga ini letih agar bayanganmu kalah
Meskipun saat rinduku hilang arah
Mengingat pelukmu adalah cara untuk meredam segala amarah
Hingga hari ini...
Nyatanya kau tak pernah tahu...
Aku lah raga yang paling membutuhkanmu
Diam membisu menahan diri untuk tidak bertemu
Kalau bukan di hari ini, mungkin di lain waktu
Namun sembari menunggu...
Tak akan pernah ada kata lelah kusebut namamu dalam bait doaku
Agar kelak sampai kapan pun...
Sakit itu tidak membunuh kebaikan dan ketulusan di dalam dirimu
Kau kulepaskan...meskipun raga ini ngilu
Kau kuikhlaskan...meskipun hati ini beku
Kau kubiarkan... merayakan kesepianmu dengan kekasih yang baru
Berpesta hingga mabuk merasuk menjadi sebuah candu
Dan disini aku...
Yang meskipun sudah hancur parah
Akan tetap merawat jejak kenanganmu dengan tabah dan begitu payah
Apa mau dikata...
Tuhan memang cuma satu, hanya saja kita yang berbeda
Kala cinta jadi luka, dihukum paksa harus berakhir
Terkubur hidup,sayang kita terlahir bukan untuk menjadi takdir
Nyatanya perpisahan tak membuat kita menjadi lebih baik
Hanya saja aku takut dengan Tuhanku
Semoga kau pun begitu,
Fuji Manisha K, 1 Maret 2017
13.59 WIB
Getarnya mengantarkanku pada sebuah pesan singkat
Darimu untuk aku
Sudah lama tak melihatmu, begitulah bunyi pesan itu
Masih kuingat jelas
Hari itu tanggal 22 September 2013
Aku tersenyum sembari menahan jemariku yang sebenarnya gemas
Kubiarkan kau dilanda cemas
Biar diamku meraba pikiranmu dengan ganas
Tapi jiwa tahu dan hati mengerti
Kau sebenarnya telah menang
Bahkan sebelum kau berperang
Aku takluk, bertekuk, jatuh dengan tenang
Ratusan purnama berlalu
Begitulah aku mengenalmu
Melihat sisi gelapmu
Bahkan kuadran yang tak pernah kau tunjukan pada siapapun
Nyatanya tidak pernah berhasil mengugurkanku
Luka itu. Sakit itu. Lelah itu. Bosan itu. Perbedaan itu
Nyatanya tidak pernah berhasil mengusir aku
Dekapan air matamu justru membuat aku utuh meskipun perlahan menyudutkanku
Hingga akhirnya aku lumpuh
Kau milikku dan selamanya akan tetap begitu
Tanda salibku tak akan mengganggu kumandang adzanmu
Jawabku dalam hati yakin dan begitu angkuh
Namun sayang, satu hal yang kita lupa
Dunia ini piawai merajut luka dan bahagia
Entah apa atau bagaimana, dia tidak akan pernah bertanya
Siap dan setujumu sudah diatur
Oleh Sang Kuasa pemilik umur
Sang Maha, yang tidak buta dan tidak tuli
Setiap hari datang untuk melawat setiap ruang hati
Mengatur siapa yang datang dan layak untuk pergi
Kekuatanku... Kemampuanmu...
Tidak akan pernah bisa melawan
Bahkan sekalipun kau memeluk aku begitu erat
Ataupun berteriak keras mengerang
Sayang aku tetap tak bisa kau tahan
Kembali aku kepada pelukan Bapaku
Begitupun dengan dirimu...
Entah memang penurut, takut dengan maut
Atau justru sebenarnya kita berdua adalah pengecut
Apapun alasannya...satu yang kupercaya
Tuhan bukan seorang lawan untuk kau sahut
KehendakNya adalah jalan terbaik yang harus kita ikut
Pada kenyataan akhirnya kita berserah pasrah
Dengan susah payah...
Kubunuh detik-detik meski harus berdarah-darah
Kubuat raga ini letih agar bayanganmu kalah
Meskipun saat rinduku hilang arah
Mengingat pelukmu adalah cara untuk meredam segala amarah
Hingga hari ini...
Nyatanya kau tak pernah tahu...
Aku lah raga yang paling membutuhkanmu
Diam membisu menahan diri untuk tidak bertemu
Kalau bukan di hari ini, mungkin di lain waktu
Namun sembari menunggu...
Tak akan pernah ada kata lelah kusebut namamu dalam bait doaku
Agar kelak sampai kapan pun...
Sakit itu tidak membunuh kebaikan dan ketulusan di dalam dirimu
Kau kulepaskan...meskipun raga ini ngilu
Kau kuikhlaskan...meskipun hati ini beku
Kau kubiarkan... merayakan kesepianmu dengan kekasih yang baru
Berpesta hingga mabuk merasuk menjadi sebuah candu
Dan disini aku...
Yang meskipun sudah hancur parah
Akan tetap merawat jejak kenanganmu dengan tabah dan begitu payah
Apa mau dikata...
Tuhan memang cuma satu, hanya saja kita yang berbeda
Kala cinta jadi luka, dihukum paksa harus berakhir
Terkubur hidup,sayang kita terlahir bukan untuk menjadi takdir
Nyatanya perpisahan tak membuat kita menjadi lebih baik
Hanya saja aku takut dengan Tuhanku
Semoga kau pun begitu,
Fuji Manisha K, 1 Maret 2017
13.59 WIB